Sabtu, 31 Juli 2010

kelangkaan sumber daya alam di indonesia

Masalah sumber daya timbul karena adanya ketidakseimbangan antara sumber daya yang tersedia dengan kebutuhan manusia yang terus meningkat. Ada empat masalah yang berkaitan dengan keberadaan sumber daya, yaitu masalah kependudukan dengan lingkungan hidup, masalah produktivitas lahan dan manusia, masalah kualitas lingkungan dan masalah penyebaran sumber daya.

Hukum kelangkaan merupakan landasan fundamental bagi keberadaan ekonomi sumber daya manusia dan ekonomi sumber daya alam. Ekonomi sumber daya manusia sebagai cabang khusus dari ilmu ekonomi pada dasarnya menjelaskan bagaimana memanfaatkan sumber daya manusia yang terbatas dalam rangka menghasilkan berbagai barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia seoptimal mungkin. Sejalan dengan itu, ekonomi sumber daya alam juga merupakan cabang khusus dari ilmu ekonomi yang kajiannya memfokuskan pada masalah pemanfaatan sumber daya alam yang ada, baik pada waktu sekarang maupun masa yang akan datang. Dalam membahas fokus kajiannya, ekonomi sumber daya manusia tidak hanya menggunakan teori ekonomi mikro tetapi juga teori ekonomi makro. Di lain pihak, ekonomi sumber daya alam lebih banyak menggunakan pendekatan teori ekonomi mikro.

Ekonomi sumber daya manusia dan ekonomi sumber daya alam keduanya dapat dikategorikan sebagai ilmu ekonomi terapan atau ilmu ekonomi normatif.


Sumber Daya Manusia dan Alam serta Pembangunan Ekonomi

Konsep pembangunan ekonomi dengan pertumbuhan ekonomi merupakan hal yang berbeda. Terjadinya pembangunan ekonomi selalu dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi, tetapi pertumbuhan ekonomi belum tentu mencerminkan terjadinya pembangunan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu kriteria. Keberhasilan pembangunan ekonomi.

Keterkaitan antara sumber daya manusia dan alam dengan pembangunan ekonomi ditunjukkan oleh konsep fungsi produksi. Dalam rangka memacu pertumbuhan ekonomi, pengembangan sumber daya manusia mutlak diperlukan. Melalui pendekatan terpadu pengembangan sumber daya manusia, peranan sumber daya manusia dalam proses pembangunan ekonomi akan semakin penting. Ada hubungan tertentu antara pertumbuhan ekonomi dengan sumber daya alam dan dengan barang sumber daya alam.

Hubungan negatif terjadi antara pertumbuhan ekonomi dengan sumber daya alam, sedang hubungan positif terjadi antara pertumbuhan ekonomi dengan barang sumber daya alam.

Peranan sumber daya alam dalam pembangunan ekonomi akan ditentukan oleh tingkat teknologi, modal dan juga kualitas sumber daya manusianya itu sendiri. Memacu pembangunan ekonomi berarti pula mengurangi persediaan sumber daya alam. Karena itu diperlukan pengertian pemanfaatan sumber daya alam yang bijaksana dan lestari, yang disertai pula dengan pengertian tentang pembangunan yang berwawasan lingkungan.


Persediaan Sumber Daya Alam

Konsep persediaan sumber daya alam memiliki kesepadanan makna dengan kata “reserve” atau “stock” atau cadangan sumber daya alam. Sedangkan cadangan sumber daya merupakan sumber daya alam yang sudah kita ketahui jumlahnya dan bernilai ekonomis.

Sejauhmana sumber daya alam itu dapat melayani kebutuhan manusia terdapat dua kelompok pemikiran yaitu kelompok pertama adalah kelompok pesimis dimana mereka menyatakan bahwa sumber daya alam terbatas adanya. Sedangkan kelompok lain adalah kelompok yang merasa optimis yang mengatakan bahwa sumber daya alam itu berlimpah persediannya dan tidak akan pernah habis.


Mengukur Kelangkaan Sumber Daya Alam

Kebenaran dari seluruh alat pengukur masih perlu dikaji bagaimana ketelitian dari alat ukur tersebut. Pendekatan dengan biaya produksi, maupun scarcity rent harus dikaji ulang mengingat kondisi pasar yang ada, khususnya apakah mekanisme pasar dapat bekerja secara sempurna, tidak ada eksternalitas, dan tidak ada campur tangan pemerintah.

Pendekatan baik secara fisik maupun secara ekonomis sama-sama memiliki kelemahan. Pendekatan secara fisik tidak memiliki kepastian mengenai besarnya persediaan. Sedangkan pendekatan secara ekonomis memiliki kelemahan yaitu bila mekanisme pasar tidak dapat bekerja secara sempurna. Oleh karena itu masih sulit untuk memastikan kondisi dari sumber daya alam itu, apakah masih melimpah atau sudah langka adanya


Klasifikasi Sumber Daya Alam

Pada dasarnya sumber daya alam itu dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu sumber daya alam yang tak dapat pulih atau tak dapat diperbaharui, sumber daya alam yang pulih atau dapat diperbaharui dan sumber daya alam yang mempunyai sifat gabungan antara yang dapat diperbaharui dan yang tidak dapat diperbaharui.

Perbedaan antara sumber daya alam yang dapat diperbaharui dengan sumber daya yang tak dapat diperbaharui hanyalah tergantung pada derajat keberadaannya. Perubahan jumlah dan kualitas sumber daya alam sepanjang waktu, tanpa melihat penggunaan sumber daya tersebut, dapat berarti peningkatan atau pengurangan, membaik ataupun memburuk, terus menerus ataupun bertahap pada laju yang konstan ataupun laju yang berubah-rubah.


Beberapa Masalah Konservasi Sumber Daya Alam

Konservasi adalah tindakan untuk mencegah pengurasan sumber daya alam dengan cara pengambilan yang tidak berlebihan sehingga dalam jangka panjang sumberdaya alam tetap tersedia. Di lain pihak deplisi menunjukkan pengurasan sumber daya alam yang ada.

Ada dua pandangan terhadap konservasi sumber daya alam, yaitu kelompok optimisme dan kelompok pesimisme. Meskipun keduanya sama-sama mendukung konservasi sumber daya alam, tetapi keyakinan terhadap konservasi keduanya berbeda.

Banyak faktor yang akan menentukan ketersediaan sumber daya alam di masa datang. Faktor-faktor tersebut tidak seluruhnya dapat dikendalikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu kebijakan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam tertentu, yang dalam hal ini dikenal sebagai kebijakan sumber daya alam yang bertanggung jawab.

Permasalahan dalam konservasi sumber daya alam mencakup dua hal, yaitu pertimbangan konservasi dan masalah alokasi sumber daya alam antarwaktu.

Masalah pertimbangan konservasi dicerminkan oleh tiga hal, yaitu apakah konservasi itu menguntungkan, apakah masyarakat menginginkan untuk mengadakan konservasi, dan bagaimana menanggulangi hambatan konservasi yang mungkin muncul. Di lain pihak, masalah alokasi sumber daya alam antarwaktu berkenaan dengan masalah periode waktu perencanaan yang sangat panjang serta adanya risiko dan ketidakpastian, baik dalam bentuk ketidakpastian teknologi maupun ketidakpastian permintaan
Baca Selengkapnya →kelangkaan sumber daya alam di indonesia

Minggu, 11 Juli 2010

DATABASE TRIGGER DAN CONSTRAINT

Tugas ini mengulas tentang manajemen stock atau inventory dan tidak membahas bagaimana menghitung Total ataupun subtotal. Untuk manajemen stock dibuat menggunakan trigger database. Privilege yang dibutuhkan CREATE TRIGGER.
Ada lima tabel yang digunakan yaitu MASTER_BARANG, ORD, ORD_DETAIL, SALES dan SALES_DETAIL. Rancangan tabel seperti pada gambar.
Ketentuan
• Barang yang akan dibeli atau dijual harus ada di tabel MASTER_BARANG
• Pembelian akan menambah stock barang
• Penjualan akan mengurangi stock barang
• Quantity (QTY) penjualan dan pembelian boleh diupdate dan otomatis akan mempengaruhi jumlah stock di MASTER_BARANG
1. MEMBUAT TABEL DAN CONSTRAINT
CREATE TABLE MASTER_BARANG (
KODE_BRG NUMBER(4) PRIMARY KEY,
NAMA_BRG VARCHAR2(20) NOT NULL,
HARGA NUMBER(10),
STOCK NUMBER(4));
CREATE TABLE ORD(
NO_ORDER NUMBER(4) PRIMARY KEY,
ID_SUPPLIER NUMBER(4) NOT NULL,
TGL_ORDER DATE,
RP_TOTAL NUMBER(12));

CREATE TABLE ORDER_DETAIL(
NO_ORDER NUMBER(4) REFERENCES ORD(NO_ORDER),
NO_URUT NUMBER(3),
KODE_BRG NUMBER(4) REFERENCES MASTER_BARANG(KODE_BRG),
HARGA NUMBER(10),
QTY NUMBER(4),
SUBTOTAL NUMBER(10));

CREATE TABLE SALES(
NO_SALES NUMBER(4) PRIMARY KEY,
ID_CUST NUMBER(4) NOT NULL,
TGL_SALES DATE,
RP_TOTAL NUMBER(12));

CREATE TABLE SALES_DETAIL(
NO_SALES NUMBER(4) REFERENCES SALES(NO_SALES),
NO_URUT NUMBER(3),
KODE_BRG NUMBER(4) REFERENCES MASTER_BARANG(KODE_BRG),
HARGA NUMBER(10),
QTY NUMBER(4),
SUBTOTAL NUMBER(10));

2. MEMBUAT TRIGGER DATABASE
Trigger UPDATE_STOCK_BRG_ORD
Buat trigger update_stock_brg_ord di tabel order_detail Yang berfungsi untuk mengupdate stock di tabel master_barang jika ada pembelian barang atau perubahan qty di tabel order_detail.
CREATE OR REPLACE TRIGGER update_STOCK_brg_ord
BEFORE INSERT OR UPDATE OF QTY ON order_detail
FOR EACH ROW
BEGIN
IF NVL(:OLD.QTY,0) < NVL(:NEW.QTY,0) THEN
UPDATE MASTER_BARANG
SET STOCK = STOCK + (NVL(:NEW.QTY,0)-NVL(:OLD.QTY,0))
WHERE KODE_BRG = :NEW.KODE_BRG;
ELSE
UPDATE MASTER_BARANG
SET STOCK = STOCK - (NVL(:OLD.QTY,0)-NVL(:NEW.QTY,0))
WHERE KODE_BRG = :NEW.KODE_BRG;
END IF;
END;
/

Trigger UPDATE_STOCK_BRG_SALES
Buat trigger update_stock_brg_sales di tabel sales_detail yang berfungsi untuk mengupdate stock di tabel master_barang jika ada penjualan barang atau perubahan qty di tabel sales_detail.
CREATE OR REPLACE TRIGGER update_STOCK_brg_sales
BEFORE INSERT OR UPDATE OF QTY ON sales_detail
FOR EACH ROW
BEGIN
IF NVL(:OLD.QTY,0) < NVL(:NEW.QTY,0) THEN
UPDATE MASTER_BARANG
SET STOCK = STOCK - (NVL(:NEW.QTY,0)-NVL(:OLD.QTY,0))
WHERE KODE_BRG = :NEW.KODE_BRG;
ELSE
UPDATE MASTER_BARANG
SET STOCK = STOCK + (NVL(:OLD.QTY,0)-NVL(:NEW.QTY,0))
WHERE KODE_BRG = :NEW.KODE_BRG;
END IF;
END;
/

3. ISI DATA KE TABEL
Isi master_barang dengan beberapa barang dengan kolom stock di set 0 sebagai data awal.
INSERT INTO MASTER_BARANG VALUES(100,’PERMEN’,1000,0);
INSERT INTO MASTER_BARANG VALUES(200,’BUKU’,2500,0);
INSERT INTO MASTER_BARANG VALUES(300,’ROTI’,1500,0);
-- Lihat isi data BARANG
select * from MASTER_BARANG;
KODE_BRG NAMA_BRG HARGA STOCK
---------- ---------- ------ -------
100 PERMEN 1000 0
200 BUKU 2500 0
300 ROTI 1500 0


4. PEMBELIAN, PENJUALAN dan UPDATE
Lakukan pembelian untuk semua barang permen 200, buku 100, roti 100 Proses pembelian disini berarti Anda mengisi data ke tabel ORD dan ORDER_DETAIL
-- Isi dulu tabel ORD
INSERT INTO ORD VALUES(1,100,SYSDATE,600000);

--Isi tabel ORD_DETAIL
INSERT INTO ORDER_DETAIL VALUES(1,2,200,2500,100,250000);
INSERT INTO ORDER_DETAIL VALUES(1,3,300,1500,100,150000);
INSERT INTO ORDER_DETAIL VALUES(1,1,100,1000,200,200000);

--Lihat data di ORD_DETAIL
SELECT * FROM ORDER_DETAIL;

NO_ORDER NO_URUT KODE_BRG HARGA QTY SUBTOTAL
-------- ------- ---------- ------ --- ----------
1 2 200 2500 100 250000
1 3 300 1500 100 150000
1 1 100 1000 200 200000

--Periksa stock pada tabel master_barang
select * from MASTER_BARANG;

KODE_BRG NAMA_BRG HARGA STOCK
---------- ---------- ------ -------
100 PERMEN 1000 200
200 BUKU 2500 100
300 ROTI 1500 100

-- Semua stock barang sudah bertambah sesuai jumlah order.

Lakukan penjualan barang permen 20, buku 10, roti 50. Proses penjualan disini berarti Anda mengisi data ke tabel SALES dan SALES_DETAIL
--Isi tabel SALES
INSERT INTO SALES VALUES (1,222,SYSDATE,120000); 1 row created.

--Isi tabel SALES_DETAIL
INSERT INTO SALES_DETAIL VALUES(1,1,100,1000,20,20000);
INSERT INTO SALES_DETAIL VALUES(1,2,200,2500,10,25000);
INSERT INTO SALES_DETAIL VALUES(1,3,300,1500,50,75000);

--Lihat isi tabel SALES_DETAIL
select * from SALES_DETAIL;

NO_SALES NO_URUT KODE_BRG HARGA QTY SUBTOTAL
-------- ------- -------- ------ ----- --------
1 1 100 1000 20 20000
1 2 200 2500 10 25000
1 3 300 1500 50 75000

--Lihat stock di tabel MASTER_BARANG
select * from MASTER_BARANG;

KODE_BRG NAMA_BRG HARGA STOCK
---------- ---------- ------ -------
100 PERMEN 1000 180
200 BUKU 2500 90
300 ROTI 1500 50

--Stock berkurang sesuai dengan jumlah penjualan.

Demikian pembahasan sederhana tentang manajemen stock (inventory) dengan menggunakan trigger database
Baca Selengkapnya →DATABASE TRIGGER DAN CONSTRAINT

Selasa, 06 Juli 2010

Pemaaf adalah Sifat- Nya

Salah satu sisi ajaran Islam yang paliong mendasar adalah pengampunan dan maaf. Hal ini sangat kontra dengan asumsi luas yang mengatakan bahwa Islam itu keras, dan ayat-ayat Al-Qur’an itu hanya penuh dengan ungkapan ‘siksaan’ (adzab). Seolah Islam itu sangat tidak ‘cinta’ dan ‘kasih sayang’, kontra dengan ajaran Kristen misalnya yang selalu menjadikan ‘cinta kasih’ sebagai slogan.

Sisi ajaran Islam yang pengampun dan pemaaf ini mendasar karena beberapa alasan sebagai berikut:

Pertama, bahwa di antara sekian Asma dan Sifat Ilahi, selain ‘Nama definite’ (Allah) ada dua yang paling nama dan sifat yang paling dominan dan berulang-ulang disebutkan dalam Al-Qur’an. Pertama adalah sifatNya yang ‘Rahmah’ (kasih sayang) dalam dua bentuk; Ar-Rahman, Ar-Rahim. Kedua, sifatNya yang ‘Pemaaf’ dalam empat bentuk; Al-Ghafuur, Al-Ghaffaar, Al-‘Afuuw dan At-Tawwab.

Kata Ghafuur dan Ghaffar misalnya, terulang lebih 70 kali salam Al-Qur’an. Demikian pula dengan kata ‘afuwwun’ dan ‘tawwabun yang seringkali dikaitkan dengan sifatNya yang ‘Rahiim’ berulang beberapa kali dalam Al-Qur’an.Kedua, bahwa dalam sejarah manusia memang sejak awal penciptaannya memerlukan pengampunan Tuhan Yang Maha Rahman. Di tempatkannya kedua orang tua manusia (Adam dan Hawa) dalam syurga, lalu kemudian diuji dengan sebuah larangan, menunjukkan bahwa hidup ini penuh dengan ujian yang besar kemungkinan akan menjadikan manusia terjatuh dalam dosa dan kesalahan. Untuk itu, dalam sejarahnya manusia bersalah dan memerlukan pengampunan. Maknanya, secara historis manusia memerlukan pengampunan dari Tuhan mereka.

Ketiga, bahwa manusia secara ‘tabiat’ memiliki juga kecenderungan untuk berbuat salah. Hal ini disebabkan karena adanya ‘kecednerungan dasar’ manusia yang disebut ‘hawa nafsu’ yang rentang menarik manusia kea rah yang bertentangan dengan dasar penciptaannya sebagai ‘makhluk fitri’ (suci). Realita ini menjadikan manusia berada pada posisi lebih mulia dari malaikat, tapi juga lebih rendah dari hewan. Kenyataan bahwa manusia memiliki hawa nafsu tapi mampu menjaga kesuciannya, menjadikanny terangkat ke derajat lebih tinggi dari malaikat. Tapi kenyataan lain bahwa dia diciptakan di atas dasar ‘fitrah’ namun hanyut dalam perbudakan hawa nafsunya, menjadikannya terjatuh dalam kehinaan yang lebih rendah dari hewan.

Itulah yang Allah firmankan: ‘Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dengan penciptaan yang sebaik-baiknya. Lalu kemudian Kami jadikan dia jatuh ke dalam derajat yang paling rendah’.

Ayat lain memuji kemuliaan manusia: ‘Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam (manusia)’.

Namun pada ayat lain digambarkan: ‘Mereka itu layaknya hewan, bahkan mereka lebih sesat (dari hewan)’.

Maka, pengampunan bagi manusia menjadi ‘asasi’ karena kenyataan bahwa memang mereka, tanpa kecuali, pasti melakukan dosa dan kesalahan. Tentunya pengecualian berlaku untuk para nabi dan rasul yang diberikan penjagaan khusus (Ishmah), sehingga mereka dikenal sebagai hamba-hamba Allah yang ‘ma’shuumiin’ (terjaga).

Dua Sisi Maaf

Berbicara tentang maaf atau pengampunan, ada dua sisi yang perlu dijelaskan. Sisi pertama adalah sisi vertikal, yaitu pengampunan Allah SWT kepada hamba-hambaNya. Sisi kedua adalah sisi horizontal, yaitu maaf dari seorang hamba kepada sesama hamba Allah SWT.

Kedua sisi ‘maaf’ (pengampunan) ini sebenarnya saling terkait. Seorang hamba yang ringan maaf, insya Allah akan selalu menjadikan Allah SWT ‘ringan maaf’ kepadanya. Hal ini karena dia menjadikan Allah sebagai kiblat akhlaq (takhallquu bi akklaqillah). Maka keduanya juga menjadi ciri khas ‘ketakwaan’ yang disebutkan dalam Al-Qur’an.

Sisi Vertikal

Allah Yang Maha Rahman-Rahim tidak pernah menutup pintu ‘ampunan’ bagi hamba-hambaNya selama hamba itu masih dalam realita kehidupan dunianya. Maknanya, masih mengalami penyatuan antara kehidupan jasad dan ruh, yang lebih dikenal dengan kehidupan dunia. Apa saja kesalahan itu, dan sebesar apapun, Allah SWT dengan ‘rahmat’Nya yang maha luas dan tanpa batas akan mengampuni hamba-hambaNya.

Dalam sebuah ayat Allah SWT menjelaskan: ‘Katakan (wahai Muhammad), wahai hamba-hambaKu yang telah melampaui batas terhadap diri mereka! Jangan berputus asa dari rahmat Allah, karena sesungguhnya Allah mengampui semua dosa. Sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’ (Al-Qur’an).

‘Sungguh Allah mengampuni semua dosa’. Itulah deklarasi Al-Qur’an yang tegas. Lalu bagaimana dengan ayat yang mengatakan bahwa ‘Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa yang mempersekutukan bagiNya?’. Jawabannya adalah bahwa jika seorang hamba melakukan dosa syirik, tapi sebelum meninggal dunia sempat meminta ampun dan kembali ke jalan tauhid, maka Allah akan mengampuni dosa tersebut. Namun jika dia meninggal dalam keadaan syirik, maka dia akan abadi dalam neraka. Dosa ini tidak akan diampuni (dihapuskan) sebagaimana dosa-dosa lain, selama orang tersebut meyakini ‘Tauhid’.

Sungguh kemaha-ampunan Allah itu sangat luat dan tidak terbatas. Dalam berbagai hadits, Rasulullah SAW menegaskan, antara lain:

‘Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba sebelum menghembuskan napas terakhir (maa lam yugharghir)’.

‘Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba sebelum mata hari terbit di ufuk barat’.

‘Sungguh Allah membuka pintu magfirah di malam hari bagi hamba yang berdosa dosa di siang hari. Dan sungguh Allah membuka pintu maghfirah di siang hari bagi hamba yang melakukan dosa di malam hari’.

Ada sebuah cerita yang menarik, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari:

‘Suatu ketika ada seseorang yang telah membunuh 99 orang. Lalu dia mendatangi seorang saleh untuk bertanya, apakah dia masih akan diampuni oleh Allah SWT? Oleh orang saleh itu dikatakan bahwa dosanya telah demikian besar dan Allah tidak akan mengampuninya lagi. Maka, dia pun marah dan membunuh orang saleh tersebut. Kemudian dia mendatangi seorang yang bijak dan ilmuan untuk menanyakan hal yang sama. Oleh sang bijak dan ilmuan itu dijawab bahwa jika memang dia iklas dang sungguh-sungguh, maka Allah akan selalu membuka pintu maaf baginya. Dengan gembira orang tersebut bertanya, apa gerangan yang harus dia lakukan agar Allah mengampuniya. Sang bijak memberitahu bahwa hendaknya dia berangkat ke suatu tempat dan beribadah bersama-sama dengan kelompok orang yang ada di tempat tersebut. Berangkatlah orang tersebut. Tapi dalam perjalanannya dia meninggal dunia. Maka dua malaikat datang bersamaanuntuk menjemputnya. Satu ingin membawanya ke syurga karena kinginannya untuk bertaubat dan berubah. Yang satu lagi ingin menyeretnya ke Neraka karena dosa yang besar, membunuh 100 orang. Mereka kemudian berselisih dan masing-masing ingin menang. Allah kemudian mengutus malaikat ketiga untuk menjadi penengah, dan Allah telah memerintahkan kepadanya untuk menentukan mana pihak (malaikat) yang benar. Malaikat ketiga kemudian memerintahkan keduanya untuk mengukur jarak dari mana dia datang dan jarak kemana orang tersebut menuju. Jika jarak asal kedatangannya lebih jauh berarti dia lebih dekat kepada syurga, dan jika sebaliknya, jarak ke tujuannya lebih jauh maka berarti dia lebih dekat ke neraka. Setelah diukur ternyata orang tersebut lebih dekat kearah tujuannya. Maka keputusan Allah adalah menerima hambaNya ini di syurgaNya’.

Itulah harapan yang tiada batas. Harapan yang mambawa kehidupan baru dalam hidup seorang hamba. Dan karenanya, menurut Al-Qur’an ‘sikap putus asa itu hanya dimiliki oleh mereka yang kufur’ (Al-Qur’an). Orang yang beriman akan selalu memiliki harapan untuk baik dan merubah hidup menjadi lebih baik. Dan harapan itu sangat terkait dengan ‘Rahmat’Nya Ilahi yang menaungi semuanya. Sebagaimana firmanNya ‘Sesungguhnya rahmatKu melampaui segala sesuatu’ (Al-Qur’an).

Sisi Horizontal

Sikap pemaaf dan mudah memaafkan ternyata menjadi salah satu ciri penting seorang hamba. Allah menyampaikan ‘Dan jika kamu memaafkan maka itu lebih dekat kepada ketakwaan’ (Al-Qur’an).

Barangkali ayat di S. Ali Imran akan menjelaskan lebih gamblang cir-ciri ketakwaan ini. Pada ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa dalam menghambakan diri kepada Allah, dituntut keseriusan dan kerja keras. Bahkan sangat dianjurkan untuk memiliki spirit ‘persaingan’ (dalam makna positif) untuk menggapai kemenangan. Allah memulai dengan mengatakan ‘Berlomba-lombalah kamu dalam menggapi magfirah Tuhanmu dan dalam upaya masuk ke dalam syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang telah disiapkan bagi orang-orang yang tertakwa’.

Siapakah yang dimaksud orang-orang yang bertakwa itu menurut ayat ini? Mereka adalah orang-orang yang memiliki ciri-ciri berikut: ‘Yaitu mereka yang menafkahkan hartanya di saat lapang maupun sulit, menahan marah, serta memaafkan manusia. Mereka itulah orang-orang yang berbuat kebajikan (muhsinuun)’ (Al-Aur’an).

Orang-orang yang bertakwa itu bercirikan: pertama, ringan tangan dalam meringankan beban orang lain, baik secara komunitas maupun secara pribadi. Maknanya, orang yang tertakwa itu adalah pemurah sebab dia sadar kepemurahan Allah atas dirinya.

Kedua, dia mampu menahan marah. Ayat ini tidak mengatakan bahwa orang bertakwa itu tidak marah. Melainkan ketika dia marah dia mampu menahan marah. Marah adalah bagian dari tabiat manusia, dan semua manusia pasti akan mengalami suatu saat di mana Susana batinnya akan marah, termasuk Rasulullah SAW. Yang membedakan antara kita dengan rasulullah SAW adalah bahwa beliau hanya marah karena kebenaran (lil haqq). Selain itu jika beliau marah, maka marahnya beliau akan diredam dan disalurkan pada saluran positif dan kebenaran. Sebaliknya, terkadang kita marah lebih didorong oleh ego dan ‘self interests’. Dan jika marah terkadang tidak terkontrol, maka terjadilah hal-hal yang destruktif.

Ketiga, dia memiliki sifat dan sikap pemaaf (al-aafiina anin naas). Ketika seseorang marah maka tentu ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama adalah penyaluran negative, termasuk ‘mengutuk’ (cursing), memukul, menendang, melempar, dan semacamnya. Atau kedua, merenung lalu mencari celah untuk menyelesaikan permasalahan itu dengan jalur yang positif. Jalur yang positif tertinggi adalah ‘memaafkan’. Dan ini menjadi salah satu ciri ketakwaan yang agung.

Pertanyaannya adalah kenapa memaafkan itu begitu penting dan menjadi cirri khas orang-orang yang bertakwa? Ada beberapa alasan yang dapat diberikan:

Satu, karakter pemaaf menjadi refleksi akhlaaaqiyat Allah (karakter yang mencontoh akhlak Allah SWT). Hadits ‘takhallaquu bi akhlaqi Allah’ (berakhlaklah dengan akhlak Allah) bermakna memiliki karakter sebagai karakter-karakter Allah SWT, sesuatu dengan batasan dan kapasitas kita sebagai manusia. Allah sebagai pemaaf (Ghafuur, Ghaffar, ‘Afuwwun, Tawwaab) seharusnya terefleksi dalam sifat dan sikap kita terhadap sesama. Alangkah anehnya, jika setiap saat melakukan kesalahan, dan setiap saat pula Allah membuka pintu maaf bagi kita, namun kita begitu kikir dalam memaafkan orang lain. Seolah dalam bahasa perbuatan (lissan al haal) kita mengatakan bahwa kebaikan itu hanya datangnya dari yang lain, sementara kita sendiri hanya berada pada posisi untuk menerima kabaikan. Tentu ini bukanlah sifat orang yang bertakwa. Karena sifat ketakwaan, salah satunya, adalah memiliki sifat ihsan kepada yang lain.

Dua, karakter pemaaf merupakan refleksi kerendah hatian (tawadhu’) seorang hamba. Ketika seseorang memaafkan orang lain maka secara tidak langsung pertama kali adalah pengakuan akan ketidak sempurnaan dirinya sendiri. Dalam hati sanubarinya akan berkata ‘hari ini saudarav saya bersalah dan perlu dimaafkan, boleh jadi esok hjari saya yang berbuat salah dan saya memerlukan sesorang untuk memaafkan saya sendiri. Untuk itu, di saat orang lain memerlukan maaf saya maka saya perliu memaafkan untuk saya dengan mudah pula dimaafkan di saat nantinya saya berbuat kesalahan.

Pasalnya adalah bahwa tiada seorang pun yang ma’shum, terkecuali para nabi dan rasulNya. Oleh karenanya, ketika seseorang tidak mau memaafkan, sebenarnya seolah berkata bahwa saya tidak perlu maaf dari siapapun, toh saya tidak akan betrbuat salah kepada siapa saja. Dan jika ini terjadi, maka itulah kesombongan yang tidak perlu terjadi.

Tiga, karakter pemaaf juga merrupakan pengakuan akan hakikat eksistensi kebaikan pada setiap orang. Maknanya, sejahat apapun seseorang, niscaya dia memiliki kemungkinan untuk baik. Perbuatan dosa dan kesalahan bukan akhir dari harapan untuk baik. Hal ini karena pada setiap insan ada dasar penciptaan yang di atasnya diciptakan semua manusia. ‘Fitrah Allah yang darinya setiap manusia diciptakan. Tiada pergantian/perubaha n pada fitrah tersebut’ (Al-Qur’an).

Ayat yang tersebut di S. Ar-Rum itu menggambarkan bahwa tanpa kecuali semua manusia itu memiliki ‘sinar sejati’ dalam dirinya karena memang itulah asas penciptaannya. Kesalahan yang dilakukan hanya refleksi kemanusiaannya yang turut serta dilengkapi oleh ‘hawa nafsu’. Untuk itu, ketika seorang manusia berbuat salah, sesungguhnya bukan karena dia berubah menjadi makhluk lain, dan kehilangan jati diri (fitrah) tapi sekedar kelemahan sehingga dia terseret oleh tarikan hawa nafsunya.

Untuk itu, di saat diomaafkan berarti pula merupakan pengakuan bahwa orang tersebut masih memiliki ‘kesempatan’ untuk kembali ke fitrahnya. Atau masih ada harapan untuk kembali menjadi manusia yang baik. Contoh terdekat dari ini adalah ketika rasulullah mendoakan salah satu dari diua orang terjahat di Mekah dengan doanya ‘Allahumma ihdi ahada Umaraen’ (ya Allah tunjukilah salah satu dari dua Umar). Ternyata Allah mengabulkan doa beliau dan ditunjukiNya Umar ibnu Khattab r.a. Kenapa salah satu Umar ini didoakan? Karena sejahat apapun mereka, mereka ada potensi yang masih dapat diharapkan dan bahkan menjadi potensi perjuangan umat ke depan.

Empat, memaafkan juga merupakan ‘syifaa’ (obat) yang mujarab, baik bagi yang memaafkan maupun yang dimaafkan. Bagi yang memaafkan, maka dia akan menjadi tenang dan kembali berlapang dada/.eorang yang tidak mau memaafkan akan selalu memendam amarah, sakit hati dan kebencian. Oleh karenanya akan beraty baginya merasakan ketenangan dan kedamain hidup. Di malam harin akan susah merasakan nyenyaknya tidur, di siang hari akan susah merasakan lezatnya makan. Yang paling berbahaya adalah jika amarah terseb ut diikuti oleh upaya-upaya balas dendam, disitulah awal bencana yang akan ditanamkan oleh syetan dalam dirinya.

Bagi yang dimaafkan maka ini merupakan obat mujarab untuk memungkinkan baginya menjadi baik. Memaafkan orang yang salah sesungguhnya juga memberikan obat mujarab kepadanya untuk mengobati penyakit hati (maradh qalbi) yang ada padanya. Kesalahn yang dilakukannya merupakan refleksi dari adanya ‘sakit hati’, karena dalam hadits disebutkan ‘jika hati baik maka baik semua amal. Tapi jika hati rusak (sakit) maka rusaklah seluruh amalan’ (hadits).

Oleh karenanya ketika seseorang dimaafkan maka itu ‘peringatan’ baginya akan adanya ‘fitrah’ terselubung yang memungkinkan baginhya untuk menjadi orang baik. Pada zaman Rasulullah SAW ada seorang pemuda yang telah menjadi Islam, rajin shalat, puasa, dll. Tapi suatu ketika dia menghadap kepada Rasulullah SAW dan meminta izin untuk berzina. Ketika Umar mendengar dia meminta izin, Umar hendak memenggal leher anak muda tersebut karena dianggap sangat kurang ajar terhadap Rasul Allah SAW. Oleh rasulullah Umar ditahan dan beliau diingatkan ‘mahlan ya Umar!’ (pelan-pelan wahai Umar). Rasulullah kemudian mengajak sang pemuda itu mendekat kepadanya, lalu tangan beliau diletakkan di dadanya dan ditanya ‘apakah kamu punya ibu?’ Dijawabnya ‘iya punya’. Rasulullah bertanya lagi ‘apakah kamu punya saudari perempuan?’. Dijawabnya ‘iya punya’. Rasulullah kemudian betrtanya ‘apakah kamu punya tante?’ Dijawabnya ‘iya punya’. Rasulullah kemudian mengatakan ‘apakah kamu suka jika ada yang melakukan itu dengan ibumu, saudarimu, atau tantemu?’ Sang pemuda menjawab ‘tidak!’. Rasulul;lah kemudian menasehatkan ‘sesugngguhnya semua wanita itu adalah seorang ibu, saudari atau tante dario orang lain. Dan tak seorangpun yang akan menyukai hal tersebut jika terjadi pada ibu, saudari atau tantenya’. Lalu rasulullah mendokan anak muda terseb ut ‘ya Allah sucikanlah hatinya!’.

Sejak hari itu, anak muda tersebut tidak pernah berpikir yang tidak-tidak dan bahkan menjadi salah seorang anak muda yang paling taat di Madinah.

Perintah Allah kepada Rasulnya

Sebagai penutup akan saya kutipkan sebuah ayat yang mungkin dalam pikiran manusiawi kita sangat berlebihan. Bayangkan, Rasul Allah SAW pada ayat ini diperintah untuk memaafkan mereka yang bersalah kepadanya. Bukan Cuma itu, tapi memintakan ampun bagi mereka. Bahkan lebih dari itu, dan ini mungkin yang berat, yaitu diperintah untuk meminta masukan (musyawarah) dari mereka.

Ayatnya adalah ‘Maka disebabkan karena rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari skelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah an piun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kermudian jika kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya’ (Al Imran:159).

Sungguh indah ajaran Islam ini. Sungguh agung ajaran akhlak mulia Allah yang disampaikan kepada kita lewat ‘uswah hasanah’ manusia, Rasulullah SAW. Semoga kita diberikan taufiq dan hidayahNya dalam membangun sifat mulia ini. Mudah menyadarin akan dosa dan kesalahan, lalu rendah hati dan segera memohon ampunan kepada sang Pencipta. Tapi semoga pula, dengan dorongan rendah hati dan ketakwaan, menjadikan kita mudah berlapang dada untuk saling memaafkan. Semoga!
Baca Selengkapnya →Pemaaf adalah Sifat- Nya

Husnudzon vs Su’udzon

Hati mudah sekali terbolak-balik, kadang ´terang´, kadang ´gelap´. Ketika hati ´terang´, Saya suka merasa sangat bahagia,bahkan kadang berlebihan sehingga tak jarang timbul rasa bangga hati, sombong, ujub, sum´ah, dan riya.
Ketika hati ‘gelap’, Saya suka merasa sangat pesimis, putus asa, merasa sangat buruk luar biasa, tidak berharga sama sekali, merasa Ia Yang Maha Kuasa tidak menginginkan Saya untuk menjadi hamba sejati-Nya. Saya sendiri sering dicoba dengan ´terang-gelap´, sehingga Saya letih bermain dengan prasangka buruk saya kepada Allah Yang Maha Cinta Kasih-Maha Suci Allah dari apa yang sering Saya prasangkai buruk selama
ini.
Sehingga terkadang Saya mencoba melepaskan diri dari apa yang Saya prasangkai terhadap Allah. Akhirnya timbul dari pemikiran saya, bahwa mungkin semua ini merupakan ujian Allah sampai Saya benar-benar kuat, tidak goyah dalam pengabdian kepada-Nya.
Jadi, Saya harus terus-menerus mencoba membangun prasangka baik kepada Allah,sehingga Saya akan terus merasa Ia Yang Maha Pengampun dan Penerima Taubat senantiasa membukakan pintu
taubat dan pengampunan-Nya untukku, dan Ia Al Haadii akan senantiasa
membimbing saya dan terus membimbing hingga Saya bertemu dengan-Nya. Amin .
Apapun yang terjadi, seharusnya, dapat Saya sikapi dengan bijak, dengan
hanya Melihat-Nya Sang Pemberi; masalah-masalah ynag kuhadapi, apapun
itu, kecil ataupun besar, semuanya adalah sarana yang kan membawSaya
kepada Allah SWT. Amin.
Ketika Saya dengan prasangka buruk bergaul dengan para manusia, yang terasa di hati adalah perasaan kesal, sebal, dan terlintas benci
kepada mereka. Astaghfirullahal ´adzhiim.
Ketika Saya ´lurus-tulus´
bergaul dengan para manusia, maka yang terasa di hati adalah
bunga-bunga cinta kasih, sehingga apa yang terbawa akan senantiasa merasa
bahagia, dan Saya akan selalu tersenyum; memperlihatkan kebaikan dan
keramahan. Jadi, ´lurus dan tulus´lah kepada siapapun, karena sesungguhnya berprasangka buruk itu tidak akan menghasilkan kebenaran yang hakiki.
Dan juga, apabila ada prasangka buruk, maka pembicaraan yang ada sering tersalahpahami. Hmmm … pantas … hubunganku dengan Allah belum baik. Hmmm … pantas … hubunganku dengan sesama manusiapun belum baik.
Baca Selengkapnya →Husnudzon vs Su’udzon

Ahlaq Nabi Terhadap Kaum yang Menganiaya..Mampukah Kita Beruswah ?

Dari Abi Abdirrahman Abdillah ibni Mas’ud ra berkata, “Seolah aku
masih melihat Rasulullah SAW tengah menceritakan seorang nabi di
antara para nabi shalawatuhu wa salamuhu alaihim yang dipukul oleh
kaumnya hingga berdarah. Nabi itu lalu menyeka darah dari wajahnya
seraya berdoa, “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak
tahu”". (HR. Muttafaqun ‘alaihi)

Penjelasan: Kisah tentang kesabaran para nabi dalam menanggung siksaan
ketika menyampaikan dakwah kepada manusia. Di antara akhlaq nabi adalah menjawab kejahilan dengan permohonan ampun dan toleransi.
Anjuran untuk tidak meladeni kekasaran orang jahil dengan tindakan yang seperti mereka laksanakan
Baca Selengkapnya →Ahlaq Nabi Terhadap Kaum yang Menganiaya..Mampukah Kita Beruswah ?

Derajat Ikhlas

Penjelasan Tentang Tingkatan Ikhlas dan Bahaya yang Mengeruhkan Ikhlas dalam Kitab Ihya Ulumuddin

Ketahuilah, bahwa bahaya-bahaya yang mengganggu ikhlas itu sebagiannya jelas dan sebagiannya itu kuat serta tersembunyi. Dan tidak dapat dipahami perbedaan derajat-derajat dalam hal tersembunyi dan jelas kecuali dengan perumpamaan.

Paling jelas bahaya yang menggenggam ikhlas adalah riya.

Syetan memasukkan bahaya atas orang yang mengerjakan shalat manakala ia ikhlas dalam shalatnya, kemudian seseorang masuk, lalu syetan berkata, “Baguskanlah shalatmu, sehingga org yg hadir ini memandang kepadamu dengan pandangan kewibawaan dan kebaikan dan ia tidak memandang hina kepadamu dan tidak mengumpatmu.”
Maka anggota badannya khusyu, sendi-sendinya tenang dan shalatnya baik.Dan ini adalah riya yang tampak dan demikian itu tidak tersembunyi atas orang-orang yang pertama dari para murid murid.

Derajat yang KEDUA: bahwa murid itu telah memahami bahaya ini dan ia berhati-hati padanya, lalu ia berpaling dan tidak mentaati syetan dan melanjutkan shalatnya.

Lalu syetan mendatanginya dengan menampakkan kebaikan dan berkata, “Kamu adalah orang yang diikuti dan diteladani dan dipandang. Dan apa yang kamu perbuat itu membekas padamu dan orang lain mengikutimu. Maka bagimu pahala amal perbuatan mereka kalau kamu membaguskan amalmu dan atasmu dosa kalau kamu menjelekkan amalmu. Maka baguskanlah amalmu di hadapannya. Mudah-mudahan ia mengikutimu dalam kekhusyukan dan membaguskan ibadah.”

Ini adalah lebih samar daripada yang pertama. Kadang-kadang tertipu padanya orang yang tidak tertipu dengan yang pertama. Dan inu juga riya yang sebenarnya dan merusak keikhlasan.

Derajat KETIGA: bahwa seorang hamba berhati-hati terhadap tipu daya syetan. Maka ia membaguskan shalatnya di tempat yang sunyi agar shalatnya bagus di hadapan orang banyak. Maka dia tidak membedakan antara keduanya. Maka perhatiannya di tempat yang sunyi dan di keramaian adalah kepada makhluk.

Derajat KEEMPAT, dan ini adalah yang lebih halus dan lebih tersembunyi: bahwa manusia memandang kepadanya, sedang ia tengah melakukan shalat, lalu syetan lemah untuk berkata kepadanya, “Khusyuklah karena mereka”, karena syetan mengerti bahwa orang itu lebih cerdas terhadap demikian. Lalu syetan berkata kepadanya, “Berpikirlah ttg kebesaran Allah Ta’ala dengan keagunganNya dan tentang Tuhan yang kamu berada di hadapanNya dan malulah bahwa Allah melihat kepada hatimu, sedang ia lalai kepadaNya. Lalu dengan demikian hatinya hadir dan anggota badannya khusyuk dan ia menduga bahwa demikian ikhlas yang sebenarnya, padahal itu adalah tipu daya dan penipu yang sebenarnya.

Sesungguhnya khusyu, jikalau pandangannya kepada keagungan Allah, niscaya goresan ini terus menerus padanya di tempat sunyi dan niscaya hadirnya goresan hati tersebut tidak tertentu dengan keadaan hadirnya orang lain.

Tidak selamat dari syetan kecuali orang yang halus pandangannya dan bahagia dengan penjagaan Allah Ta’ala, taufiq-Nya dan petunjuk-Nya. Kalau tidak, maka syetan itu tidak meninggalkan orang-orang yang rajin ibadah kepada Allah Ta’ala. Ia tidak lalai dari mereka sekejap pun, sehingga ia membawa mereka kepada riya pada setiap gerakan, sehingga pada mencelaki mata, menggunting kumis, memakai wewangian di hari Jum’at dan memakai pakaian.

Karena itulah dikatakan, “Dua rakaat dari orang yang alim itu lebih utama daripada ibadah setahun dari orang yang bodoh.”
Baca Selengkapnya →Derajat Ikhlas

Bersih diri

Banyak sekali atau bahkan hampir semua, amal dan usaha kita sekarang
ini lebih merupakan wujud penolakan kita terhadap karsa Allah.
Lihatlah apa yang mendasari kita bekerja? Apa yang mendasari kita
sekolah atau kuliah? Apa yang mendasari kita mengatasi masalah?

Mungkin apabila kita mau jujur terhadap diri kita, jawabannya adalah karena
ketakutan kita akan kelaparan, kekurangan harta, takut disepelekan orang,
karena tersinggung, karena kebencian dan banyak lagi alasan lainnya, yang
semua itu bermuara kepada keinginan bersenang-senang dalam kehidupan
dunia (syahwat) atau ego (hawa nafsu).Karena itulah al Qur’an dalam perspektif lain menjelaskan tentang bahaya
mengikuti hawa nafsu dan syahwat, serta keharusan bagi kita untuk berupaya
mengendalikannya.

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah
mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas
penglihatannya Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah
(membiarkannya sesat).Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran
(QS. 45:23)

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
Ilahnya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? atau apakah
kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami.
Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat jalannya dari binatang ternak itu). (QS. 25:43-44)

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya
nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat
oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. 12:53)

Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan
dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada
kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan
penglihatannya telah dikuncimati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang
yang lalai. (QS. 16:108)

Tidak akan mungkin kita menjadi seorang manusia yang menyerahkan diri kepada
Allah, apabila tarikan-tarikan hawa nafsu dan syahwat masih demikian kuat
terjadi dalam diri kita. Dan semakin hawa nafsu dan syahwat terkendali serta jinak,
maka setahap demi setahap meningkatlah keberserahandirinya kepada Allah Ta’ala.
Baca Selengkapnya →Bersih diri

Dosa Dosa

Banyak orang menyangka bahwa dosa-dosa yang harus ditaubati hanyalah
dosa-dosa yang dzahiriyah, seperti meninggalkan shalat, meninggalkan puasa,
membunuh, berzina, dsb.

Sedikit yang menyadari bahwa segala niat yang jelek-pun telah diperhitungkan
oleh Allah Swt.

Allah Swt berkata:
Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan jika kamu
melahirkan apa yang ada di dalam hatimu (anfusikum) atau kamu
menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu
tentang itu. (QS. 2:284)Nabi Saw pun berkata:
“Apabila bertemu dua orang Islam dengan pedang keduanya, maka yang membunuh
dan terbunuh itu dalam neraka”. Lalu ditanyakan: “Wahai Rasulullah, ini yang
membunuh. Maka bagaimana dengan yang dibunuh?” Beliau menjawab: “Karena ia
bermaksud membunuh kawannya”. (HR Bukhari dan Muslim)

Dari hadits ini kita mendapatkan penjelasan bahwa seorang berdosa (masuk
neraka) karena membunuh orang lain. Seseorang pun berdosa pula karena ia
“berniat” (memiliki niat) membunuh, walaupun karena kepiawaian ia yang
terbunuh. Seorang yang memiliki niat membunuh telah diperhitungkan sebagai
membunuh!

Bila kita menyadari hal ini, wah… betapa banyak kesalahan dan dosa yang
kita lakukan.
Mungkin kita tidak pernah membunuh orang, tetapi kita sering memiliki niat
dan berpikir dan berniat membunuh orang.
Mungkin kita tidak pernah mencuri, tetapi kita sering memiliki niat dan
berpikir mencuri harta orang lain.
Mungkin kita tidak pernah berzina, tetapi kita sering berpikir dan memiliki
niat berzinah dengan orang lain.

Sahabat-sahabat.
Yang membuat hati kita tertutup, bukan hanya karena dosa-dosa yang
dzahiriah. Namun juga disebabkan oleh kesalahan-kesalahan dalam tingkat niat
dan pikiran. Yang kita harus taubati bukan hanya dosa-dosa yang dzahiriah,
namun juga segala kesalahan ini.

Dan sekiranya seseorang cerdas, maka ia akan melihat bahwa amal-amal yang
dilakukannya tidak akan pernah melebihi bahkan sekedar menyamai kesalahan
yang dilakukannya. Dalam keadaan seperti ini maka seseorang dapat kembali
suci bersih hanya dengan belas kasih dan pertolongan (rahmat) Allah Swt.

Karenanya Dia berkata:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah
syaitan.Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka
sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang
mungkar.Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu
sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih selama-lamanya… (QS.24:21)
Baca Selengkapnya →Dosa Dosa
@Copyright by: Memories In My Life Yudi Gp