Selasa, 06 Juli 2010

Berlatih untuk sabar

Sekian lama aku belum pernah berlatih untuk sabar, sekarang pun baru
“mencoba belajar berlatih sabar”, karena untuk mau latihan pun
dibutuhkan dibutuhkan niat dan tekad yang kuat; jadi sekarang aku baru
“mencoba belajar berlatih sabar”.

Sebagai seorang yang ingin Mencari Allah, kita harus menjadi seorang
yang “baik”, baik secara bathin maupun secara lahir. “Baik” itu
mengandung arti berakhlak baik, karena Rasulullah SAW diutus Allah SWT
untuk menyempurnakan akhlak yang baik, dimana menurut Al-Quran, di
akhirat nanti yang di timbang dari diri manuisa adalah al-haqqnya.

QS. Al-Mu´minun (23) : 102

“Barangsiapa yang berat timbangan al-haqqnya, maka mereka itulah
orang-orang yang beruntung.”Al-haqq yang kita miliki akan membuahkan akhlak yang baik. Kita tidak
akan pernah dapat menemukan apa yang menjadi amal shaleh kita apabila
kita tidak berakhlak baik. Seseorang dapat berakhlak baik hanya
apabila Allah yang menganugerahkannya kepadanya; dianugerahkan kepada
orang yang sabar sebagai tanda ´syukur´-Nya kepada kita, sementara
sabar itu sulit, lebih sulit daripada belajar matematika – itu adalah
saya, yang kalau mendapatkan nilai 6 saja untuk pelajaran matematika
sudah merupakan prestasi. Namun untuk pelajaran sabar, baru bisa
dikatakan berprestasi apabila mendapatkan nilai 10. Nilainya harus
sempurna, tidak ada “setengah sabar”.

Dalam kehidupan sehari-hari, coba ingat lagi, berapa banyak sudah kita
menjumpai pelajaran sabar dalam peristiwa yang kita alami.

Penerbangan dari Jakarta ke Jerman, misalnya, yang memakan waktu
berkisar selama 16 sampai 24 jam (kalau naik pesawat paling murah),
membosankan, walaupun bisa melakukan beberapa kegiatan sambil duduk;
ya, sabar. Perut lapar, tapi kita sedang berpuasa, misalnya berpuasa
di Bulan Ramadhan; ya, bersabar untuk tidak makan sampai waktu buka
tiba; Hati kesal karena baru saja ada orang yang menghina kita; maunya
kita langsung marah-marah, tapi kan tidak boleh seperti itu. Ya,
bersabar untuk tidak sampai marah. Ada anak kecil yang tidak sengaja
menendangkan bolanya dengan sekuat tenaga ke kepala kita; ya, bersabar
untuk tidak marah kepadanya dengan berusaha tersenyum, kalau bisa kita
memberikan coklat yang baru saja kita beli karena anak kecil itu telah
sudi menjadi ´utusan´ Allah untuk menguji kesabaran kita; Misalnya
lagi, naik angkot yang jalannya lambat sekali; ya, bersabar tidak
menggerutu apalagi sampai menghardik Pak Supir yang budiman. Dan sabar
lagi ketika angkot tidak berhenti tepat di depan tempat tujuan kita,
tapi malah berhenti tepat di depan kubangan air kotor, apalagi setelah
turun uang kembaliannya tidak ada. Sudah itu, rok atau celana kita
tidak sengaja terkena permen karet yang menempel di jok angkot.

Di atas itu adalah berupa contoh-contoh yang ´tidak sengaja´ — dalam
artian kita tidak kita kondisikan — kita ´hadapi´ yang terkadang
ketika kita siap dalam menghadapinya, maka kita bisa bersabar; namun
tak jarang juga kita tidak siap menghadapinya, sehingga kita tidak
lulus dalam pelajaran bersabar dalam suatu peristiwa. Allah memberikan
peristiwa-peristiwa ´tidak sengaja´ tersebut kepada kita sebagai
latihan bagi kita untuk bisa menjadi orang yang sabar.

Kita bisa membuat latihan yang kita ´sengaja´kan adanya bagi diri kita
untuk belajar sabar. Untuk apa, sih, membuat latihan sabar yang kita
´sengaja´kan, tho latihan itu sendiri sudah sering kita dapatkan,
walaupun dengan status ´tidak sengaja´? Apa kita mau mencari ´repot´
dengan mencari-cari masalah, sementara kita sendiri sering banyaknya
gagal dalam menghadapi ujian sabar?

Bagi saya pribadi, karena seringnya saya tidak siap, lalu gagal
bersabar ketika latihan sabar yang ´tidak sengaja´ itu saya hadapi;
membuat latihan sabar yang ´sengaja´ saya kondisikan setidaknya
sedikit demi sedikit saya berharap dapat memupuk kesabaran saya.
Latihan sabar yang ´tidak disengaja´ saya tidak tahu kapan datangnya,
sementara latihan sabar ´disengaja´ saya tahu waktunya karena sengaja
saya kondisikan. Semoga pada saat datang latihan sabar yang ´tidak
disengaja´, saya sudah bisa lebih siap menghadapinya sehingga bisa
lebih bersabar; kemarin nilainya minus 30, sekarang semoga nilainya
bisa menjadi minus 15; secara bertahap dan perlahan, namun berharap
selalu ada pertambahan nilai pada ujian kesabaran berikutnya. Latihan
sabar ´disengaja´ ini bersifat rutin, saya bisa mulai dari hal
teramat kecil yang sebelumnya saya suka abaikan.

Setiap habis shalat, misalnya, saya lebih suka menggulung perlengkapan
shalat saya, lalu meletakkannya di lantai begitu saja; terlihat tidak
rapih. Saya melakukan hal itu dengan alasan, “Nanti tho insya Allah
shalat lagi, ngapain capek-capek bulak-balik melipat. Lagian menghemat
waktu juga. ”

Melalui kebiasaan buruk saya itu, saya mencoba latihan sabar dengan
melipat perlengkapan shalat saya dengan rapih, lalu memasukkannya ke
dalam lemari. Bayangkan! Saya harus melipat sajadah, baju shalat,
mukena atas-bawah; mukenanya susah dilipat pula (´bergerak´ ke sana ke
mari karena kainnya licin). Saya tidak tahu sebenarnya, apakah
perilaku saya sebelumnya yang tidak melipat perlengkapan shalat itu
benar atau salah, soalnya kalau melihat alasannya bisa benar juga, ya
… hehehehe … Namun karena intinya saya ingin membuat semacam
latihan sabar ´disengaja´ bagi diri saya sendiri, ya, sudah, deh, saya
mencoba merubah kebiasaan saya, secara kontinu. Godaan untuk kembali
kepada kebiasaan lama tentu saja ada. Kegagalan pun terkadang masih
´menampilkan´ dirinya.

Sehabis shalat, seringkali juga saya malas berdzikir lisan dan berdoa,
terutama kalau tidak mempunyai ´kebutuhan´ apapun kepada-Nya. Oke,
deh! Kemalasan saya itu saya jadikan sebagai latihan sabar
´disengaja´; saya mencoba menguatkan diri untuk berdzikir lisan dan
berdoa. Walaupun terlihat terpaksa dan formalitas (ampuni hamba, ya,
Allah. Amin), saya mencoba ambil dari sisi latihan sabarnya.
Bayangkan! Waktu setengah jam, misalnya, yang sebelumnya bisa dipakai
untuk menonton film kartun kegemaran saya di televisi, menjadi
dipakai untuk waktu berdzikir lisan dan berdoa; sementara ketika
melakukan dzikir lisan dan berdoa itu, sayup-sayup terdengar oleh
telinga saya suara-suara ´heboh´ film kartun kegemaran saya; Betapa
rasanya tubuh ini terus-menerus ingin bangkit dari duduk di atas sajadah.

Membaca doa sebelum melakukan suatu kegiatan juga dapat merupakan
latihan sabar ´disengaja´, disamping menumbuhkembangkan rasa butuh
kita kepada Allah. Coba saja, sebelum masuk toilet – apalagi toilet
umum — harus membaca doa dulu; berdiri sebentar di depan toilet,
padahal sudah tidak tertahan atau ada orang yang melihat ´keanehan´
kita yang berdiri beberapa detik-1 menit di depan kamar mandi. Mau
makan, sudah lapar – apalagi bau makanan yang begitu menggugah selera,
tetapi harus menahan diri dulu beberapa lama sebelum langsung makan
begitu makanan terhidang di hadapan kita. Pertama, tunggulah
makanannya sampai tidak panas lagi (kalau tidak salah, Rasulullah SAW
melarang kita memakan makanan yang masih panas, ya … Ada yang tahu
alasannya, gak?). Selesai berdoa, latihan sabar dilanjutkan : Makanlah
nasi putihnya terlebih dahulu sebanyak 3 sendok makan – lebih latihan
sabar lagi kalau makannya pakai 3 jari, hehehehe ….. Setelah itu
berlanjut lagi latihan sabarnya : ambillah makanan yang terhidang
paling dekat dari diri kita, sementara kita ingin makan makanan yang
paling jauh letaknya dari kita; namun kalau cuma ada satu makanan,
sementara kita pengen banyak, ini juga merupakan latihan bersabar dan
bersyukur, tentunya.

Bersabar tidak ada batasnya. Manusia harus selalu bersabar atas apapun
yang sedang dihadapinya. Kalau kita ingin menjadi baik, ya itulah
syaratnya : sabar.

Segitu saja dari saya … makasih banyak, ya …., sudah mau bersabar
mencoba membaca tulisan saya yang sedang “mencoba belajar berlatih
sabar” ini …

Ok, deh, Insya Allah disambung kapan2 dalam waktu yang tidak dapat
ditentukan …

Terakhir, bonus …

QS. Al-Baqoroh : 45, 46

“Dan mintalah Pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat. Dan
sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang
yang khusyuk, yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan
menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya (Ilaihi
raaji´un).”

0 komentar:

Posting Komentar

coment untuk

@Copyright by: Memories In My Life Yudi Gp